Showing posts with label manajemen peserta didik. Show all posts
Showing posts with label manajemen peserta didik. Show all posts

Sunday, January 3, 2010

Resume Perkuliahan 11 - Konsep dasar kreatifitas dan Kecerdasan Emosional


Konsep dasar kreatifitas menurut para ahli sangat beragam. Menurut Olson, kreativitas itu merupakan kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau berkreasi. Setiap manusia diberikan akal pikiran untuk dapat mencerna sesuatu hal-hal sehingga timbul suatu hasil yang diciptakan dari pemikiran kreatif tersebut. Sedangkan menurut Churlock, kreativitas adalah proses menghasilkan sesuatu yang baru, baik gagasan maupun objek dalam suatu bentuk susunan baru, menciptakan suatu ide baru merupakan suatu tolak ukur konsep dasar kreativitas yang dimiliki sesorang. Lain lagi menurut Evan, kreativitas itu adalah keterampilan untuk menemukan sesuatu yang baru. Memandang subjek dari perspektif yang baru, dan membentuk kombinasi yang baru dari 2 atau lebih suatu konsep.
            Kreatifitas memiliki pola dasar, yaitu IDEA. I untuk Imajinasi. Seseorang yang kreatif memiliki imajinasi yang luas akan sesuatu. Dia tidak melihat suatu hal dari sudut pandang yang sempit, tetapi dia bisa melihat nilai lebih dari suatu hal yang bisa ia kembangkan. Imajinasi hanyalah sekedar imajinasi jika tidak didasarkan pada D = Data. Untuk mewujudkan imajinasi kita, diperlukan data-data yang akurat mengenai hal tersebut agar kita mempunyai pegangan dalam melaksanakan imajinasi kita. Setelah kita mempunyai data, kita juga perlu untu E = Evaluasi. Disini, kita menganalisis kesiapan kita dalam menjalankan imajinasi kita. Apakah data kita sudah cukup relevan, apakah persiapan kita sudah memenuhi, apakah media yang kita gunakan sudah cukup kuat untuk mewujudkan imajinasi kita dan  lain sebagainya. Jika kita sudah mengevaluasi persiapan kita, maka saatnya untuk  A = Aksi.
            Sebenarnya setiap manusia terlahir sebagai manusia yang kreatif, hanya saja daya kreatifitas itu bisa melemah karena adanya rasa takut mengubah kebiasaan, atau takut berbuat salah dan kemudian ditertawakan dan tidak memiliki rasa humor. Untuk meningkatkan hal ini dibutuhkan kepercayaan diri untuk mendobrak mindset pikiran kita dengan cara jelajahi pikiran kita dan terus bersikap terbuka terhadap gagasan baru. Kembangkan pertanyaan, karena dengan begitu kita akan membentuk pola pikiran yang tidak biasa, kemudian kita juga mengembangkan gagasan kita, mengembangkan cara baru untuk keluar dari zona aman kita sehingga kita bisa melakukan inovasi-inovasi. Yang terpenting adalah kita tidak takut mengambil resiko.
            Bagaimana cara kita untuk mengasah kreatifitas kita? Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk merangsang jiwa kreatif kita. Diantaranya adalah yakinlah anda pasti bisa menjadi seseorang yang kreatif, semua orang pasti bisa menjadi kreatif dan menjadi orang yang sukses. Ekspresikan kreatifitas dalam pekerjaan dan kehidupan yang anda jalani. Munculkan jiwa kekanak-kanakan anda dimana seorang anak tidak memiliki rasa malu untuk mengetahui segala hal. Hilangakan berpikir secara logis. Lakukan sesuatu yang tidak biasa anda lakukan. Isi pikiran anda dengan berbagai ilmu pengetahuan. Perbanyaklah buku yang anda baca dan lihatlah dunia luar, dengan begitu anda akan mempunyai banyak referensi. Pilih aktifitas rutin yang menyenangkan dan bisa digunakan jika pikiran sedang buntu dan jenuh. Tuliskan segera ide yang muncul pada secarik kertas sehingga anda punya banyak ide kreatif. Percaya bahwa anda bisa melakukannya. Poin terakhir adalah yang terpenting. Jika anda tidak percaya anda kreatif, maka jiwa kreatif anda tidak akan keluar.
Pak Amril mengatakan bahwa ‘the best to get good ideas is to get a lot of ideas’. Maksud dari pernyataan tersebut adalah jika kita ingin sesuatu yang menarik, ide yang segar, maka cara terbaik untuk menemukannya adalah dengan mencarinya sebanyak mungkin, karena dengan banyaknya pilihan yang tersedia maka kita bisa memilih dengan bebas mana yang terbaik.
 
Kecerdasan Emosional
            Emosi adalah suatu perilaku, respon psikologis dan pengaturan perasaan yang timbul karena adanya keinginan yang tak diduga sebelumnya. Emosi merupakan tanggapan atas segala kejadian yang dialami dalam lingkungan hidupnya. Emosi biasanya mendorong seseorang untuk melakukan berbagai tindakan. Tindakan tersebut bisa berupa tindakan yang positif ataupun yang negatif. Jadi emosi tidak hanya yang didefinisikan orang pada jaman dahulu, yaitu hanya perasaan negatif yang terlihat dari perilaku orang jika sedang marah.
            Kecerdasan emosional adalah bagaimana cara kita mengatur emosi kita agar tidak terlalu berlebihan dalam pengungkapannya. Penguasaan dari kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ ini sangat penting bagi kehidupan, karena terbukti dari penelitian bahwa EQ yang tinggi merupakan kunci kesuksesan seorang manusia, bukan hanya dari IQ. Mengapa EQ sangat penting? Karena EQ menunjukkan kecerdasan kita dalam berhubungan dengan sesama manusia.
             EQ memiliki dimensi-dimensi, yaitu pertama adalah kecakapan pribadi yang berhubungan dengan kemampuan mengenali diri sendiri, sadar diri, pengaturan diri dan motivasi diri. Penilaian diri secara teliti mampu mengetahui kekuatan dan keterbatasan diri sehingga kita menjadi tahu akan batas-batas diri kita. Dalam pengaturan diri, berhubungan dengan pengolaan kondisi impuls (kata hati) dan sumber daya diri. Dalam pengaturan diri terdapat kendali diri, sifat dapat dipercaya, kewaspadaan, adaptasibilitas dan inovasi (menerima dan terbuka dari ide baru). Motivasi diri berhubungan dengan emosi yang mengatur atau memudahkan peralihan sasaran seperti dalam motivasi mencetak prestasi.

            Dimensi yang kedua, yaitu kecakapan sosial dalam berhubungan dengan orang lain seperti empati dan keterampilan berinteraksi dengan orang lain. Empati meliputi memahami perasaan orang lain, orientasi pelayanan, mengembangkan orang lain, serta mengatasi keragaman pada setiap individu. Keterampilan sosial berhubungan dengan kepandaian dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki orang lain. Seperti pengaruh dari pendapat orang lain dengan yang akan terjadi pada diri kita, lalu dalam berkomunikasi antar sesama, membangkitkan inspirasi dan memadukan orang lain dan berhubungan dengan katalisator memulai dan mengelola perubahan.

Resume Perkuliahan 9 - Quantum Learning


            Kecerdasan manusia tidak hanya dilihat dari satu aspek, tapi dari berbagai aspek. Maka dari itu muncullah teori Multiple Intelligences yang membagi kecerdasan manusia menjadi bermacam-macam kecerdasan, diantaranya adalah kecerdasan sastra linguistik, logika matematika, visual, kinestetik, musikal, interpersonal, intrapersonal, natural. Untuk menemukan dan mengembangkan kecerdasan yang kita miliki, terdapat metode belajar yang dikemukakan oleh Georgi Lozanov, yaitu Quantum Learning.
Yang dimaksud dengan Quantum Learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Quantum learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan Neuro Linguistic Programming  (NLP) dengan teori.
Di dalam Quantum Learning, kita memahami bagaimana cara kerja otak sehingga bisa mengoptimalkan daya kerja otak. Otak terdiri dari 2 bagian, otak kanan dan otak kiri.
Otak Kiri : logis (mengacu pada urutan aktivitas), sekuensial, linier, rasional, konvergen, vertikal.
Otak Kanan : acak, tidak teratur, intiutif sehingga imajinasi berkembang, tetap mengacu pada fakta secara holistik (menyeluruh)
            Salah satu teknik belajar yan ditawarkan Quantum Learning adalah belajar aktif dan membuat peta pikiran. Belajar aktif mempunyai ciri-ciri :
  • Belajar apa saja dari setiap situasi
  • Memanfaatkan apa yang kita pelajari untuk keuntungan kita.
  • Proaktif, mempunyai inisiatif untuk memulai lebih dahulu
  • Bersandar pada kehidupan
Untuk mempermudah kita dalam belajar kita harus membuat peta pikiran, manfaat peta pikiran adalah agar belajar kita menjadi fleksibel, memusatkan perhatian dalam pelajaran dalam belajar kita, memudahkan kita meningkatkan pemahaman dalam belajar, dan agar belajar kita lebih menyenangkan.

Selain itu, dalam metode Quantum Learning menekankan bahwa suasana belajar harus nyaman dan mendukung. Agar suasana belajar menjadi nyaman, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengatur ruang kelas, antara lain : perabotan kelas ditata dan diletakkan dengan sebaik-baiknya agar siswa mudah bergerak, pencahayaan kelas dapat diatur, agar belajar dapat terfokus, penggunaan musik sebagai media relaksasi, alat bantu visual yang memudahkan siswa memahami materi, temperatur udara sebaiknya dapat diatur sehingga bisa disesuaikan dengan kondisi siswa, kenyamanan yang dirasakan oleh setiap peserta didik dan suasana hati pada para peserta didik juga harus diperhatikan.



Resume Perkuliahan 8 - Strategi Belajar


        Sebelum memulai untuk memahami lebih dalam strategi belajar, hal pertama yang harus dipahami adalah esensi dari belajar itu sendiri. Untuk apa kita belajar? Ada tiga hal yang diungkapkan disini, yaitu belajar untuk menjadikan kehidupan manusia lebih bermanfaat dan lebih baik. Ini adalah poin terpenting. Selain itu, seluruh kehidupan manusia adalah proses belajar, sehingga setiap detik kita hidup, kita sedang belajar akan sesuatu. Kemudian, hal terakhir adalah karena setiap agama di muka bumi ini mewajibkan umatnya untuk belajar. Jadi jelas, dengan 3 alasan diatas, merupakan hal yang wajib bagi kita untuk terus belajar sepanjang sisa umur kita.

        Lalu apa yang dimaksud dengan pembelajaran? Jika kita hany sekedar belajar, tidak ada proses pembelajaran didalamnya. Dalam pembelajaran, ada proses perubahan sikap dan ada nilai yang ditanamkan. Dalam kuliah MPD, disebutkan 3 hal berkaitan dengan pembelajaran. Yaitu pertama adalah hal ini sebuah proses interaksi, antara guru dengan murid atau dengan lingkungan. Yang kedua adalah bahwa pembelajaran dilakukan secara profesional oleh orang yang memiliki kemampuan untuk memudahkan orang lain dalam mendapatkan pengetahuan dengan sengaja, terarah dan terkendali. Selain itu, pembelajaran juga adalah sebuah bentuk intervensi dengan tujuan terjadinya proses belajar.

        Ada tiga pendekatan dalam strategi belajar, yaitu yang pertama adalah perubahan paradigma, yaitu pengajaran pembelajaran dari paradigm yang dulunya adalah teacher-centered, dimana guru sebagai pusat pembelajaran, semua informasi datangnya dari guru dan siswa tinggal menerima, berubah menjadi student-centered, dimana siswa dituntut lebih aktif dalam belajar. Siswa diarahkan untuk lebih kreatif dalam menemukan sumber belajar. Guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran. Lalu ada perubahan landasan, dari behavioristik menjadi konstruktivistik. Dari belajar yang tadinya bersifat sebagai penambahan pengetahuan, serta pengetahuan itu bersifat objektif dan past serta terstruktur dengan rapi dan seragam. Menjadi landasan konstruktivistik yang belajar pemaknaan atas pengetahuan (learning how to learn), pengetahuan senantiasa berubah, pengetahuan terstruktur secara rumit dan beragam. Kemudian ada pendekatan ilmiah yang meliputi teori-teori pembelajaran.
Proses pembelajaran sebaiknya disusun secara sistemik dan sistematik sehingga terjadi interaksi yang optimal antara dosen, mahasiswa dan sumber belajar. Selain itu suasana belajar juga harus mendukung, menyenangkan, menantang, mendorong semangat dan kegiatan, memungkinkan berkembangnya prakarsa (inisiatif), memberikan keteladanan dan membangun kemandirian.
       Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema tertentu. Tema yang diangkat ditinjau dari beberapa mata pelajaran yang bersangkutan. Dalam pembelajaran tematik, hal-hal yang ditawarkan adalah menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum, menawarkan dinamika dalam pembelajaran, menghilangkan batas semu antara bagian kurikulum, menyediakan pembelajaran yang integratif dan membantu siswa membangun hubungan antar konsep dan ide yang kemudian memunculkan pemahaman siswa.

      Pembelajaran kreatif adalah bentuk pembelajaran yang mengorganisasikan isi ajaran dan kegiatan belajar sehingga terjadi belajar aktif. Belajar aktif meliputi diantaranya belajar menemukan (discovery learning), PBL (Problem-based Learning),Contextual learning, Independent learning, Cooperative learning dan concept-mapping learning (pemetaan konsep).






Resume Perkuliahan 7 - Manajemen Kelas

       Manajemen kelas membicarakan mengenai bagaimana menciptakan suasana belajar yang baik dan kondusif. Hal ini mengarah pada berbagai jenis kegiatan yang dengan sengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan menciptakan kondisi optimal bagi terjadinya proses belajar-mengajar. Selain itu, manajemen kelas berbicara bagaimana menghentikan perilaku siswa yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran kepada siswa (reward and punishment) dan juga bagaimana mengatur orang dan fasilitas di dalam kelas.

     Terdapat permasalahan yang dapat ditangani oleh manajemen kelas, yaitu : permasalahan individual, seperti attention getting behavior, pwer seeking behavior, revenge seeking behavior, dan helplessness. Jenis tingkah laku ini merupakan tingkah laku menyimpang yang datang dari individu siswa yang akan menganggu kegiatan pembelajaran dalam kelas. 

      Selain itu, ada juga permasalahan yang ditimbulkan oleh kelompok dalam kelas, contohnya keadaan kelas kurang kohesif karena alasan jenis kelamin, suku, tingkatan ekonomi, dan lain-lain. Atau juga adanya penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati, adanya kelompok yang cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah diberikan, semangat kerja yang rendah, kurang kemampuan dalam penyesuaian diri terhadap kondisi baru. Hal-hal diatas adalah masalah manajemen kelas yang harus ditangani karena kalau tidak akan menganggu lancarnya jalan kegiatan pembelajaran.

    Untuk menanganinya, ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan, yaitu diantaranya adalah; pendekatan otoriter, pendekatan intimidasi, pendekatan permisif dimana guru membeirkan kebebasan pada siswa  apa yang ingin dilakukan dan guru hanya memantau, pendekatan 'resep masakan' dimana siswa mengikuti dengan tertib hal-hal yang sudah ditentukan, pendekatan pengajaran (guru menyusun rencana pengajaran dengan tepat guna menghindari masalah), pendekatan modifikasi perilaku (mengupayakan perubahan perilaku yang positif pada siswa), pendekatan iklim sosio-emosional, disini guru menjalin hubungan positif dengan siswa dengan fokus utama adalah mengembangkan potensi siswa, lalu yang terakhir adalah dengan melakukan pendekatan dinamika kelompok, yaitu dengan meningkatkan dan memelihara kelompok kelas yang efektif dan produktif.

     Seorang guru bebas memilih akan memakai pendekatan mana yang akan digunakan dalam menangani masalah di kelasnya. Setiap pendekatan tersebut sama baiknya, asal digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi dan sesuai dengan kebutuhan permasalahan.

      Dalam manajemen kelas juga dibahas mengenai setting kelas atau pengaturan tempat duduk di kelas. Ada 4 jenis setting kelas yang dikemukakan, yaitu U-shape, O-shape, V-shape dan theatre. Semua setting ini bebas dipilih oleh guru untuk diterapkan di kelas asalkan sesuai dengan situasi dan memenuhi kebutuhan dari peserta didik dan juga guru itu sendiri.

      Salah satu isu dalam manajemen kelas yang sering muncul adalah mengenai sistem 'moving class'. Kelas yang menggunakan sistem ini berarti tidak mempunyai kelas tetap. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan tidak berada di satu kelas, melainkan di banyak kelas. Dan dalam sistem ini, siswalah yang menghampiri guru di dalam kelas, bukan guru yang mendatangi siswa. Sistem ini baik untuk siswa karena dalam setiap pergantian kelas, siswa akan mempunyai waktu istirahat sejenak sebelum memulai pelajaran selanjutnya. Hal ini diharapkan dapat membuat siswa menjadi lebih siap belajar.

       Selain itu tujuan dari sistem moving class ini adalah untuk melatih kemandirian siswa, merangsang seluruh aspek perkembangan diri, menyediakan fasilitas belajar yang sesuai dengan mata pelajaran dan juga untuk memfasilitasi siswa yang meiliki beraneka macam gaya belajar.

       Tetapi masalah utama yang sering muncul dalam sistem ini adalah efisiensi waktu dari pelaksanaannya. Seringkali siswa datang terlambat ke dalam kelas selanjutnya karena sistem ini dengan alasan jarak antara kelas lain dengan kelas lainnya agak jauh. Dan juga persiapan kelas menjadi lebih lama dari biasanya karena baik guru maupun siswa harus mengkondisikan kembali kelas setelah terpakai oleh kelompok siswa yang lain.

      Itulah gunanya memahami manajemen kelas agar kita mengetahui bagaimana mengontrol sebuah kelas dengan segudang permasalahannya. Dan agar kita mengetahui solusi yang tepat untuk permasalahan di dalam kelas.

Resume Perkuliahan 6 - Seleksi, Penempatan dan Orientasi

     Dalam materi kali ini, fokus utama pembelajaran adalah pada proses seleksi dimana proses ini merupakan proses yang cukup kompleks dan memerlukan perencanaan yang matang.


     Seleksi adalah serangkaian kegiatan yang digunakan untuk memutuskan apakah pelamar diterima atau tidak. Keputusan penerimaan seorang pelamar dilihat dari ada atau tidaknya kesamaan atau perpaduan dari kebutuhan pelamar dengan kebutuhan lembaga pendidikan yang dilamar. 
     
      Terdapat beberapa tantangan dalam proses seleksi, diantaranya yaitu tantangan supply yang berbicara mengenai ketersediaan calon peserta didik yang ada. Sebuah lembaga haruslah memperhatikan mengenai ketersediaan calon peserta didik yang dituju agar proses seleksi bisa berjalan dengan lancar. Jika ketersediaan calon peserta didik terdapat dalam jumlah yang besar, maka keuntungan yang didapat adalah lembaga tersebut mempunyai kesempatan lebih besar dalam memilih peserta didik yang terbaik. Tetapi di sisi lain, hal ini juga berdampak pada pekerjaan administaratif yang bertambah, penambahan biaya dan sumber daya, dan lain-lain.


       Selain itu ada tantangan yang bersifat ethis. Misalnya dalam hal kesetaraan gender, apakah sebuah sekolah hanya menerima calon peserta didik yang laki-laki saja atau yang perempuan saja. Hal ini harus diperhatikan karena akan berimplikasi pada penyediaan sarana. Selain itu dalam hal family sistem yang diberlakukan. Sebuah lembaga harus tegas dalam hal ini, apakah proses seleksi yang dilakukan murni dari hasil proses seleksi yang diadakan atau apakah ada faktor lain dalam penerimaan siswa. Dan ada beberapa hal dalam tantangan ethis ini yang berbicara seputar tanggung jawab moral dari sebuah lembaga pendidikan yang melakukan proses seleksi. Hal ini juga harus diperhatikan oleh sebuah lembaga pendidikan.


       Tantangan selanjutnya dalam proses seleksi adalah tantangan organisasional. Mengenai visi dan misi organisasi. Apakah proses seleksi sudah sejalan dengan visi dan misi organisasi. Adanya keterbatasan sarana, biaya, alokasi dan lain sebagainya yang menghambat proses seleksi.


       Langkah-langkah proses seleksi adalah seleksi administratif, tes-tes, wawancara seleksi, pemeriksaan referensi, evaluasi medis, dan kemudian keputusan penerimaan. Semua itu adalah prosedur standar dalam proses seleksi walaupun tidak semua lembaga memakai prosedur yang sama. Yang paling penting dan tidak boleh dihilangkan adalah tahap tes dan wawancara karena poin itulah yang menentukan seseorang memenuhi kriteria atau tidak. Yang harus menjadi catatan adalah penggunaan langkah-langkah tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan dari lembaga pendidikan tersebut.


       Setelah melalui proses seleksi, maka calon peserta didik yang lulus seleksi akan melalui tahap selanjutnya, yaitu proses penempatan. Sebuah lembaga dalam menempatkan calon peserta didiknya mempunyai beberapa dasar, diantaranya berdasarkan hasil seleksi. Disini, semua calon peserta didik yang lulus seleksi ditempatkan berdasarkan urutan hasil seleksi, cara ini adalah yang paling sederhana dalam penempatan. Selain itu proses penempatan juga didasarkan pada homogenitas atau heterogenitas yang diharapkan ada di tiap kelas. Apakah sebuah kelas terdiri dari beragam siswa dengan tingkat kecerdasan yang berbeda atau tiap kelas terdiri dari siswa dengan tingkat kecerdasan yang rata-rata sama. Selain itu ada juga yang mendasarkan penempatan siswa berdasarkan gender. Biasanya ini untuk anak-anak berkebutuhan khusus.


       Lalu pembahasan yang terakhir dalam bab kali ini adalah orientasi. Tujuan dari orientasi adalah mengenalkan siswa baru pada hak dan kewajibannya, pada organisasi yang ada di sekolah, dan juga dengan siswa lain. Terdapat muatan standar dalam proses orientasi ini, yaitu masalah organisasional, perkenalan pada hak dan kewajiban, fasilitas, mekanisme, prosedur dan ketentuan  tentang pembelajaran, ujian, dan lain-lain.


       Ada 2 bentuk dari tahapan orientasi ini, yaitu formal dan informal. Contoh dari bentuk yang formal adalah dengan mengadakan OSPEK atau MPA seperti yang terdapat di UNJ. Sedangkan yang informal dengan adanya 'buddy system' yaitu siswa baru diajak berkeliling melihat fasilitas dan menemui pihak-pihak tertentu yang ada di lembaga.


       Manfaat dari orientasi adalah untuk penyesuaian diri siswa baru, optimalisasi kemampuan, dan menumbuhkan kohesivitas. Seharusnya masa orientasi dijadikan seperti pesta penyambutan siswa baru dengan suasana yang akrab antara senior dan junior, tidak dengan kegiatan budaya ospek yang malah menakuti-nakuti dan 'menggojlok' siswa baru.

Resume Perkuliahan 5 - Rekrutmen Peserta Didik


Dalam pertemuan ke-5, kali ini kuliah Manajemen Peserta Didik membahas mengenai Rekrutmen Peserta Didik. Pada minggu sebelumnya, kami ditugaskan untuk membawa lembar iklan mengenai perekrutan peserta didik yang ada di koran-koran. Lembar iklan yang kami bawa berhubungan dengan materi yang disajikan hari ini, rekrutmen.
            Sebelum memahami proses rekrutmen, kita harus mengetahui dulu apa yang menjadi fungsi dari lembaga pendidikan itu sendiri dan mengapa ada lembaga pendidikan. Pendidikan merupakan hal yang wajib dan dipaksakan. Setiap orang wajib mengenyam pendidikan selama hidupnya karena pendidikan mempunyai fungsi di  4 bidang kehidupan; ekonomi, sosial, kultur dan politik. Dalam fungsi ekonominya, pendidikan berguna bagi perbaikan dari segi ekonomi bagi mereka yang berpendidikan. Dalam dunia kerja, orang yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi jelas memiliki kehidupan ekonomi yang lebih baik walaupun banyak yang mengatakan pendidikan tidak menjamin seseorang akan sukses, tapi tidak dapat dipungkiri pendidikan berperan besar dalam perbaikan kualitas hidup seseorang.
            Lebih lanjut dalam fungsinya di bidang sosial, pendidikan mengajarkan kita bagaimana bersosialisasi dengan sesama. Mengajarkan apa yang menjadi norma-norma yang berlaku di masyarakat.  Melalui pendidikan, tata cara bergaul di masyarakat dapat diketahui dan kita bisa menjadi masyarakat yang baik melalui pendidikan. Berbeda dengan orang yang tidak berpendidikan, terkadang mereka tidak mengetahui apa dan bagaimana cara bergaul di masyarakat sehingga terjadi jurang pemisah antara yang berpendidikan dengan yang tidak. Inilah mengapa pendidikan merupakan hal yang wajib dan dipaksakan.
            Di dalam fungsinya di bidang kultur atau budaya, pendidikan berperan dalam mempertahankan dan melestarikan budaya bangsa yang ada. Dengan pendidikan yang notabene mentransfer pengetahuan mengenai kebudayaan, maka orang yang mengenyam pendidikan akan terus berusaha menjaga budaya tersebut. Pemeliharaan budaya yang bersifat statis adalah menjaga warisan budaya yang sudah bagus dan baik agar tidak rusak dan punah. Sedangkan yang bersifat dinamis adalah mengembangkan budaya dengan inovasi, yaitu dengan memperbaikii budaya lama dengan yang lebih baru dan sesuai dengan zaman. Dengan demikian, budaya bangsa akan terus lestari.
            Fungsinya yang terakhir, yaitu di bidang politik, pendidikan mampu memberikan pemahaman politik mengenai hak dan kewajiban seorang warga negara terhadap negaranya. Hal ini bisa terlihat dari pelaksanaan PEMILU di Indonesia. PEMILU dapat dilaksanakan karena adanya pengetahuan mengenai demokrasi sehingga hal itu dapat dilaksanakan di Indonesia. Dan melalui pendidikan juga diketahui bagaimana menjadi pemimpin yang baik dan hal ini berguna bagi kita semua karena kita dapat mengetahui kewenangan apa saja yang dimiliki oleh pemimpin, seperti pemimpin bangsa.
            Singkatnya, melalui pendidikan, diperoleh sejumlah informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan. Pendidikan berperan besar dalam pembentukan karakter diri manusia hingga jati diri sebuah bangsa. Itulah mengapa pendidikan menjadi wajib dan sesuatu hal yang dipaksakan untuk setiap manusia mengingat betapa pentingnya esensi sebuah pendidikan.
            Lalu berbicara mengenai rekrutmen peserta didik, merupakan langkah awal dalam tahapan manajemen peserta didik. Sebuah lembaga pendidikan perlu membuat rancangan rekrutmen yang seapik mungkin agar calon peserta didik tertarik untuk memasuki lembaga pendidikan tersebut. Hal pertama yang harus diperhatikan sebelum merencanakan proses rekrutmen adalah tujuan dari lembaga pendidikan itu sendiri. Mengenali tujuan lembaga akan memudahkan dalam proses rekrutmen karena lembaga pendidikan mempunyai pegangan mengenai apa yang akan dicapai oleh lembaga tersebut ke depannya sehingga terdapat spesifikasi yang jelas mengenai karakteristik calon peserta didik yang akan direkrut. Langkah kedua adalah menentukan kriteria calon peserta didik yang akan direkrut. Hal ini berhubungan dengan langkah pertama karena kriteria bisa ditetapkan berdasarkan tujuan lembaga. Apabila lembaga tersebut bertujuan untuk menjadi lembaga pendidikan khusus anak-anak berbakat, maka calon peserta didiknya tentunya adalah anak-anak yang berbakat. Langkah ketiga adalah membuat estimasi jumlah calon peserta didik secara keseluruhan. Misalkan, lembaga kita adalah sebuah SMP. Maka untuk proses rekrutmen kita harus memperhitungkan jumlah lulusan SD pada tahun tersebut yang akan  masuk ke SMP dan setelah itu lembaga pendidikan bisa memperkirakan jumlah yang dapat ditampung oleh lembaga dari jumlah estimasi tersebut. Sehingga tidak terjadi yang namanya penumpukan calon peserta didik (waiting list) atau kekurangan calon peserta didik.
            Calon peserta didik dapat mengetahui sebuah lembaga sudah membuka rekrutmen dari beberapa sumber, yaitu pertama dengan cara ‘walk-in’, dimana calon peserta didik dapat mendatangi langsung lembaga pendidikan yang dituju untuk mengetahui informasi mengenai rekrutmen yang diadakan pada lembaga tersebut. Sumber kedua adalah melalui internet. Calon peserta didik bisa melakukan pendaftaran secara online jika lembaga terkait memiliki situs untuk melakukan rekrutmen. Sumber ketiga adalah melalui advertising atau iklan. Lembaga-lembaga pendidikan yang mengadakan rekrutmen biasanya menarik calon peserta didik melalui iklan di media cetak maupun media lainnya. Lalu sumber yang bisa diandalkan lainnya adalah dengan mendatangi acara open house dari lembaga tersebut. Di acara ini calon peserta didik dapat mengetahui informasi-informasi berhubungan dengan lembaga yang dituju.
            Dalam setiap hal pasti memiliki kendala. Kendala yang seringkali ditemui dalam proses rekrutmen adalah mengenai k ebijakan organisasional yaitu kenaikan kelas, kelulusan, dan mutasi, serta biaya pendidikan yang mahal, dan juga penerimaan siswa lokal atau luar kota. Adanya perbedaan jumlah supply(persediaan) and demand(permintaan) calon peserta didik yang ditujukan untuk lembaga pendidikan yang akan diterima. Selain itu, kendala dari kondisi lingkungan eksternal sekolah, baik kondisi ekonomi maupun persaingan di luar lembaga pendidikan yang dapat menggangu.

Pengembangan Kesiswaan dan Ekstrakurikuler - Makalah individu



Pembahasan
Yang dimaksud dengan pengembangan kesiswaan adalah mengembangkan potensi siswa sesuai bakat, minat dan kebutuhan siswa melalui kegiatan-kegiatan di luar jam sekolah dengan mengadakan pembinaan kesiswaan yang dimonitor oleh pihak sekolah.
Seperti yang tertulis di Permen No. 39 pada Bab 1 pasal 1 yang menyatakan bahwa : Tujuan pembinaan kesiswaan adalah untuk mengembangkan potensi siswa secara optimal dan terpadu yang meliputi bakat, minat, dan kreativitas, memantapkan kepribadian siswa untuk mewujudkan ketahanan sekolah sebagai lingkungan pendidikan, sehingga terhindar dari usaha dan pengaruh negatif dan bertentangan dengan tujuan pendidikan, mengaktualisasikan potensi siswa dalam pencapaian prestasi unggulan sesuai bakat dan minat, menyiapkan siswa agar menjadi warga masyarakat yang berakhlak mulia, demokratis, menghormati masyarakat madani (civil society).
Pembinaan kesiswaan terdiri dari 2 macam, yaitu Ekstrakurikuler dan Kokurikuler. Ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/madrasah. Sedangkan kokurikuler adalah kegiatan yang dilakukan di luar jam pelajaran yang telah dijatahkan dalam struktur program, berupa penugasan-penugasan atau pekerjaan rumah yang menjadi pasangan kegiatan intrakurikuler.
Fungsi Kegiatan Ekstrakurikuler
Fungsi dari kegiatan ekstrakurikuler antara lain adalah : fungsi
a.      Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat mereka.
b.      Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik.
c.       Rekreatif,  yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses perkembangan.
d.       Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik.
Prinsip Kegiatan Ekstrakurikuler
Dalam menjalankan kegiatan ekstrakurikuler, terdpaat beberapa prinsip yang harus dijalani, yaitu pertama, prinsip
a.      Individual, dimana kegiatan ekstrakurikuler disesuaikan dengan potensi, bakat dan minat peserta didik masing-masing.
b.      Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan keinginan dan diikuti secara sukarela peserta didik.  
c.       Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang menuntut keikutsertaan peserta didik secara penuh.
d.      Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler dalam suasana yang disukai dan mengembirakan peserta didik.
e.      Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang membangun semangat peserta didik untuk bekerja dengan baik dan berhasil.
f.        Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat.
Jenis Kegiatan Ekstrakurikuler
Terdapat beberapa jenis kegiatan ekstrakurikuler yaitu :
 (a.) Krida, meliputi Kepramukaan, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA).
(b.) Karya Ilmiah, meliputi Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian.
 (c.) Latihan/lomba keberbakatan/prestasi, meliputi pengembangan bakat olah raga, seni dan budaya, cinta alam, jurnaistik, teater, keagamaan.
 (d). Seminar, lokakarya, dan pameran/bazar, dengan  substansi antara lain karir, pendidikan, kesehatan, perlindungan HAM, keagamaan, seni  budaya.
Format Kegiatan Ekstrakurikuler
Format Kegiatan dari kegiatan ekstrakurikuler dibagi menjadi 5, yaitu:
a.   Individual, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik secara perorangan.
b.   Kelompok, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti oleh kelompok-kelompok peserta didik.
c.   Klasikal, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik dalam satu kelas.
d.   Gabungan, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik antarkelas/antarsekolah/madraasah.
e.   Lapangan, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti seorang atau sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar kelas atau kegiatan lapangan.
Artikel Permasalahan
            Di SMAN 3 Depok terdapat berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler, mulai dari bidang olahraga seperti basket, futsal, voli, hingga tenis meja, bidang kesenian seperti paduan suara, teater, modern dance, tari tradisional, lalu bidang akademik seperti KIR, Klub Bahasa dan Klub Debat dan juga ekskul seperti Paskibra, Pramuka dan PMR.
            Siswa-siswa SMAN 3 Depok terbilang cukup aktif dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Khususnya bagi mereka yang tergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler kesenian, yang merupakan ekskul unggulan di SMAN 3 Depok, seperti Paduan Suara, Teater dan juga Modern Dance.
            Kegiatan ekstrakurikuler yang disebutkan diatas sering mengikuti perlombaan di luar sekolah. Baik skala daerah maupun nasional. Hal ini menyebabkan anggota dari kegiatan dari ekskul yang bersangkutan sering meminta dispensasi belajar saat menjelang hari perlombaan.
            Seperti yang terjadi pada ekskul Paduan Suara SMAN 3 Depok, Mezzo Voices. Ekskul ini sering mengikuti perlombaan paduan suara di luar sekolah yang menyebabkan mereka harus berlatih lebih sering dari jadwal rutin jika sedang akan mengikuti perlombaan. Biasanya, H-7 hari, para anggota paduan suara ini akan meminta dispensasi belajar kepada setiap guru mata pelajaran. Para guru pun banyak yang mengijinkan mereka untuk tidak ikut pelajaran dan menggunakan waktunya untuk berlatih.
            Memang pada akhirnya, seringkali hasil perlombaan yang diikuti Mezzo Voices membawa nama baik sekolah karena gelar juara yang didapat. Tetapi hal ini berdampak pada menurunnya prestasi belajar para angota paduan suara. Banyak dari mereka yang tadinya masuk ke dalam jajaran peringkat kelas tiba-tiba harus turun peringkat. Salah satu faktor penurunan prestasi siswa ini disinyalir karena mereka terlalu fokus pada kegiatan ekskul.

Analisis Masalah
·         Pokok masalah
Adanya ketidakseimbangan antara  prestasi anggota paduan suara di kegiatan ektrakurikuler dengan prestasi di kelas.
·         Faktor penyebab
o   Kurangnya waktu latihan anggota paduan suara
o   Kurangnya fokus dan keoptimalan saat latihan
o   Pihak sekolah terlalu longgar dalam pemberian dispensasi
o   Latihan baru dipadatkan saat hari-hari menjelang perlombaan
Solusi Permasalahan
Solusi yang bisa ditawarkan untuk menangani kasus semacam ini dibagi menjadi 2 bagian, yaitu dari pihak sekolah dan juga dari pihak siswa :
Pihak sekolah :
  1. Memberi ketegasan mengenai batas jadwal latihan dari ekskul paduan suara.
  2. Mengadakan dialog terbuka antara pihak sekolah dengan pembina dan anggota paduan suara mengenai kebijakan yang akan diambil.
Pihak siswa :
  1. Membuat skala prioritas antara belajar dengan kegiatan ekskul
  2. Aktif di kelas sehingga tidak terlalu tertinggal dengan materi pelajaran saat harus dispen
  3. Memanfaatkan waktu latihan yang ada seoptimal mungkin

 Sumber :


http://do.id/artikel/permen_39_tahun_2008_mengembangkan_potensi__siswa_secara_optimal

www.fatamorghana.wordpress.com

Sunday, October 18, 2009

Resume perkuliahan 4 - Perencanaan Peserta Didik


Pembahasan selanjutnya adalah mengenai Perencanaan Peserta Didik. Seperti yang sudah dibahas pada pembahasan sebelumnya, perencanaan merupakan kegiatan pertama dalam Manajemen Peserta Didik. Dalam perencanaan, hal yang harus diperhatikan adalah penetapan tujuan. Setelah menetapkan tujuan, maka untuk mengatur hal-hal selanjutnya akan lebih mudah. Setelah menetapkan tujuan, biasanya akan diikuti penentuan standar, metode, strategi dan hal-hal teknis lainnya.



Dalam perencanaan peserta didik, khususnya dalam mengelola sebuah sekolah, ada faktor-faktor yang harus dipenuhi, yaitu :

1.            Faktor Internal

a.      Finansial. Kegiatan sekolah haruslah menyesuaikan dengan kondisi keuangan sekolah agar tidak terjadi tumpang-tindih.

b.      Human Recources Assessment. Penilaian terhadap kemampuan SDM yang ada.

c.       Marketing Audit. Melakukan pengecekan terhadap keuangan dan efektifitas pemasaran.

d.      Operation Analysis. Kegiatan analisis operasional perencanaan, mulai dari rekrutmen hingga pembiayaan dan dievaluasi apa yang masih kurang memenuhi target.

e.      Other Internal Recources. Contohnya : MIS (Management Information System) dan RD (Recources and Development)

2.            Faktor Eksternal
a.      Industri dan Market (kondisi pasar dan psikologi pasar)

b.      Kompetitor (pesaing)

c.       Political dan regulatitory (kebijakan / aturan / UU)

d.      Sosial (Kondisi masyarakat yang ada)

e.      Human Recources (bagaimana mencarinya?bagaimana mengelolanya)

f.        Macro Economic (terkait dengan rata-rata penghasilan masyarakan >> contohnya mengenai kemampuan masyarakat untuk membayar iuran sekolah)

g.      Technological (Operational/management based technology)


Dalam perencanaan peserta didik, yang direncanakan tidak saja proses masuknya siswa di sekolah tersebut, melainkan juga ketika siswa tersebut akan keluar dari sekolah tersebut. Artinya, perencanaan peserta didik mencakup kegiatan perencanaan mulai dari rekrutmen siswa baru, seleksi siswa, penempatan siswa baru, masa orientasi siswa, pengadaan kegiatan ekstrakurikuler dan fasilitas Bimbingan dan Konseling, dan fasilitas layanan lainnya, hingga ke pemberhentian siswa karena mutasi atau kelulusan ataupun karena drop-out.

Maka dari itu, merencanakan peserta didik membutuhkan berbagai muatan. Diantaranya adalah:
a.      Strategi

b.      Kebijakan

c.       Program

d.      Prosedur

e.      Metode

f.        Sistem

g.      Anggaran

h.      Standard